Dua Hakekat Hidup
Manusia hidup di dunia ini sebenarnya memiliki dua hakekat. Dua hakekat hidup tersebut sebenarnya juga merupakan janji seorang manusia kepada sang Khalik sebelum manusia dilahirkan ke dunia ini. Dua hakekat hidup itu sendiri juga merupakan perintah Tuhan yang harus dijalankan selama hidup di dunia. Apakah dua hakekat hidup itu?
Masyarakat Jawa mengenal dua hakekat hidup tersebut yaitu tansah eling manembah marang Gusti Allah lan apik marang sak padan-padaning urip. Hakekat hidup yang dikenal oleh masyarakat Jawa tersebut juga dikenal dalam ajaran Islam dengan istilah Hablum Minnallah (selalu menyembah Allah) dan Hablum Minna Nass (berbuat baik pada sesama umat).
Dua hakekat kehidupan tersebut harus senantiasa kita ingat. Pasalnya, jika kita tidak ingat terhadap dua hakekat hidup tersebut, maka kita akan terkena bencana karena ulah kita sendiri. Misalkan, kita tidak berbuat baik terhadap sesama manusia, maka secara langsung maupun tidak langsung, kita tidak akan disenangi manusia lainnya yang ada di sekitar kita. Itu masih masalah hubungan dengan manusia. Nah, kalau hubungan dengan TUhan malah harus lebih baik lagi. Kalau dimusuhi manusia, kita masih bisa berlagak sombong dengan mengatakan tak butuh bantuan dari si fulan yang memusuhi kita, tetapi kalau dimusuhi oleh Gusti Allah, kepada siapa kita berlindung dan meminta pengayoman hidup?
Dua hakekat kehidupan itulah yang harus kita pegang dalam hidup ini. Kalau Anda tidak percaya, silakan Anda mengingkari dua hakekat kehidupan itu dan lihatlah apa yang akan terjadi pada Anda. Oleh karena itu, hayatilah dua hakekat hidup itu sebelum melangkah pada penyembahan Gusti Allah yang maha sempurna. Itu sebagai bukti bahwa kita telah menjalankan apa yang diperintahkan Gusti Allah kang Maha Adil untuk merengkuh CintaNYA.
Rabu, 03 Maret 2010
Tentang Saya
Ki Amongroso
Kamis, 04 Maret 2010
Salam kenal dan Salam sejahtera untuk anda tak terkecuali,
Semoga HidayahNya senantiasa terlimpahkan untuk anda.....
Rahayu.....rahayu....rahayu..... untuk seluruh kadang....
Untuk catatan anda , saya seorang sepuh dari etnis jawa , tepatnya jawa timur , atau lebih tepatnya alamat lengkap saya : Jl.Anggrek V/43 RT.03 RW.05 - Ds.Kureksari-Kec.Waru-Sidoarjo 61256...nama lengkap saya : Toekoel Soeyono , saat ini saya masih mengabdikan diri pada PT.Kereta Api Daerah Operasi VIII Surabaya, yang insya Allah , akan ngaso dirumah setelah tanggal 1 Juni 2009 , dimana saya akan memasuki hari-hari bahagia sebagai purnabhaktiwan...
Saya siapkan bagi anda semua yang ingin sharing, sarasehan tentang kehidupan ini, sehingga saya , anda dan siapapun yang menginginkan kebahagiaan hakiki mulai sekarang hingga sampai kapanpun, insya Allah hingga kehidupan yang maha damai di akhirat kelak.
tidak banyak yang saya sampaikan sebagai pembuka blogger ini, mudah-mudahan anda berkenan dan tali silaturachmi kita semua akan membuahkan kebahagiaan bagi seluruh alam dan isinya, sebagai catatan dalam sastra jendra hayuningrat : kita semua harus bisa HAMEMAYU HAYUNING BAWONO (Harus bisa mempercantik dunia yang sudah diciptakan oleh Gusti Allah sang wajibul maulana dengan sangat cantik dan elok ini.
akhirnya salam hormat untuk anda semua yang sudi untuk mengunjungi dan bersilaturachmi lewat blogger saya, semoga akan langgeng, dan sebagai manusia biasa yang tidak terlepas dari alpha, sudilah kiranya permohonan maaf saya dapat anda berikan untuk saya yang lemah ini.....
salam.........
Kamis, 04 Maret 2010
Salam kenal dan Salam sejahtera untuk anda tak terkecuali,
Semoga HidayahNya senantiasa terlimpahkan untuk anda.....
Rahayu.....rahayu....rahayu..... untuk seluruh kadang....
Untuk catatan anda , saya seorang sepuh dari etnis jawa , tepatnya jawa timur , atau lebih tepatnya alamat lengkap saya : Jl.Anggrek V/43 RT.03 RW.05 - Ds.Kureksari-Kec.Waru-Sidoarjo 61256...nama lengkap saya : Toekoel Soeyono , saat ini saya masih mengabdikan diri pada PT.Kereta Api Daerah Operasi VIII Surabaya, yang insya Allah , akan ngaso dirumah setelah tanggal 1 Juni 2009 , dimana saya akan memasuki hari-hari bahagia sebagai purnabhaktiwan...
Saya siapkan bagi anda semua yang ingin sharing, sarasehan tentang kehidupan ini, sehingga saya , anda dan siapapun yang menginginkan kebahagiaan hakiki mulai sekarang hingga sampai kapanpun, insya Allah hingga kehidupan yang maha damai di akhirat kelak.
tidak banyak yang saya sampaikan sebagai pembuka blogger ini, mudah-mudahan anda berkenan dan tali silaturachmi kita semua akan membuahkan kebahagiaan bagi seluruh alam dan isinya, sebagai catatan dalam sastra jendra hayuningrat : kita semua harus bisa HAMEMAYU HAYUNING BAWONO (Harus bisa mempercantik dunia yang sudah diciptakan oleh Gusti Allah sang wajibul maulana dengan sangat cantik dan elok ini.
akhirnya salam hormat untuk anda semua yang sudi untuk mengunjungi dan bersilaturachmi lewat blogger saya, semoga akan langgeng, dan sebagai manusia biasa yang tidak terlepas dari alpha, sudilah kiranya permohonan maaf saya dapat anda berikan untuk saya yang lemah ini.....
salam.........
EMPAT TINGKAT MENDEKATKAN DIRI
Empat Tingkat Mendekatkan Diri
Banyak cara untuk menggali potensi diri untuk bisa mendekat pada GUSTI ALLAH. Salah satunya adalah dengan cara berdiam diri dan senantiasa mengingat keberadaan TUHAN. Orang yang beragama Islam menyebut cara berdiam diri mengingat ALLAH itu dengan sebutan Tafakur.
Tapi pada kebudayaan Jawa, orang menyebut cara itu dengan kata "Semedi". Menilik dari kata tersebut, Semedi berasal dari kata Samadhi yang juga berasal dari India. Agama Hindu dan Buddha yang berasal dari India lebih dulu merambah pulau Jawa daripada Islam. Mereka memperkenalkan cara untuk lebih khusuk menghadap ALLAH dengan jalan
Samadhi.
Namun, orang Jawa lebih suka untuk mempermudah pengucapan sehingga tidak sulit untuk diungkapkan. Akhirnya orang Jawa pun sepakat dengan kata "SEMEDI". Meski berbeda
ucapan, tetapi artinya sama antara Semedi, Tafakur dan Samadhi yang sama-sama berupaya untuk mendekatkan diri pada GUSTI ALLAH.
Dan kata Semedi, Tafakur maupun Samadhi tersebut akhirnya disesuaikan dengan bahasa Indonesia yang akhirnya disebut Meditasi. Jadi, kita memiliki empat kata yakni Meditasi, Semedi, Samadhi dan Tafakur yang semuanya memiliki arti yang sama.
Sebenarnya, antara kata Semedi atau Samadhi dengan meditasi memiliki tingkat kata yang berbeda. Artinya, Semedi atau Samadhi memiliki tingkat arti yang lebih tinggi dibandingkan meditasi. Ada empat tahap tingkat untuk mendekatkan diri pada GUSTI ALLAH dari dasar ke yang paling tinggi yakni perenungan, kontemplasi, meditasi dan
samadhi/semedi.
Perenungan
Untuk tingkat awal yakni Perenungan. Namanya saja, perenungan, maka yang dilakukan adalah berdiam diri dengan merenungkan penciptaan ALLAH. Dengan melakukan perenungan
itu, maka akan mampu memiliki wawasan bahwa GUSTI ALLAH itu Maha Besar karena telah menjaga keseimbangan alam semesta ini.
Kontemplasi
Kontemplasi merupakan upaya berdiam diri, tetapi lebih dalam dibandingkan perenungan. Artinya, upaya kontemplasi dilakukan sembari dibarengi dengan konsentrasi terhadap
ALLAH.
Meditasi
Sedangkan Meditasi juga berdiam diri, tetapi lebih terfokus pada relaksasi dan mencari ketentraman diri. Dengan hati yang tentram, maka akan mampu menggapai GUSTI
ALLAH.
Samadhi/Semedi
Samadhi atau Semedi merupakan langkah berdiam diri dengan khusuk berkonsentrasi penuh untuk menghadap GUSTI ALLAH. Kadang-kadang saking asyiknya melakukan Samadhi/Semedi, si pelaku akan lepas dari raganya. Hal ini di kepercayaan Jawa disebut "NGROGO SUKMO".
Kalau Anda masih dalam tahap perenungan, maka tidak usah berkecil hati. Teruskan usaha Anda dan yakinlah bahwa Anda akan bisa melakukannya. Yang lebih istimewa lagi,
tahap-tahap dalam berdiam diri untuk mendekatkan diri pada ALLAH itu apabila dilakukan setiap hari, maka Anda akan berhasil mendapatkan apa yang Anda cari.
GUSTI ALLAH sangat suka terhadap orang-orang yang berniat untuk mendekatkan diri padaNYA. Kalau tidak sekarang, kapan lagi Anda akan mendekatkan diri padaNYA? Ingat, umur kita hanya ALLAH sendiri yang tahu, kita manusia hanya menjalani saja
Banyak cara untuk menggali potensi diri untuk bisa mendekat pada GUSTI ALLAH. Salah satunya adalah dengan cara berdiam diri dan senantiasa mengingat keberadaan TUHAN. Orang yang beragama Islam menyebut cara berdiam diri mengingat ALLAH itu dengan sebutan Tafakur.
Tapi pada kebudayaan Jawa, orang menyebut cara itu dengan kata "Semedi". Menilik dari kata tersebut, Semedi berasal dari kata Samadhi yang juga berasal dari India. Agama Hindu dan Buddha yang berasal dari India lebih dulu merambah pulau Jawa daripada Islam. Mereka memperkenalkan cara untuk lebih khusuk menghadap ALLAH dengan jalan
Samadhi.
Namun, orang Jawa lebih suka untuk mempermudah pengucapan sehingga tidak sulit untuk diungkapkan. Akhirnya orang Jawa pun sepakat dengan kata "SEMEDI". Meski berbeda
ucapan, tetapi artinya sama antara Semedi, Tafakur dan Samadhi yang sama-sama berupaya untuk mendekatkan diri pada GUSTI ALLAH.
Dan kata Semedi, Tafakur maupun Samadhi tersebut akhirnya disesuaikan dengan bahasa Indonesia yang akhirnya disebut Meditasi. Jadi, kita memiliki empat kata yakni Meditasi, Semedi, Samadhi dan Tafakur yang semuanya memiliki arti yang sama.
Sebenarnya, antara kata Semedi atau Samadhi dengan meditasi memiliki tingkat kata yang berbeda. Artinya, Semedi atau Samadhi memiliki tingkat arti yang lebih tinggi dibandingkan meditasi. Ada empat tahap tingkat untuk mendekatkan diri pada GUSTI ALLAH dari dasar ke yang paling tinggi yakni perenungan, kontemplasi, meditasi dan
samadhi/semedi.
Perenungan
Untuk tingkat awal yakni Perenungan. Namanya saja, perenungan, maka yang dilakukan adalah berdiam diri dengan merenungkan penciptaan ALLAH. Dengan melakukan perenungan
itu, maka akan mampu memiliki wawasan bahwa GUSTI ALLAH itu Maha Besar karena telah menjaga keseimbangan alam semesta ini.
Kontemplasi
Kontemplasi merupakan upaya berdiam diri, tetapi lebih dalam dibandingkan perenungan. Artinya, upaya kontemplasi dilakukan sembari dibarengi dengan konsentrasi terhadap
ALLAH.
Meditasi
Sedangkan Meditasi juga berdiam diri, tetapi lebih terfokus pada relaksasi dan mencari ketentraman diri. Dengan hati yang tentram, maka akan mampu menggapai GUSTI
ALLAH.
Samadhi/Semedi
Samadhi atau Semedi merupakan langkah berdiam diri dengan khusuk berkonsentrasi penuh untuk menghadap GUSTI ALLAH. Kadang-kadang saking asyiknya melakukan Samadhi/Semedi, si pelaku akan lepas dari raganya. Hal ini di kepercayaan Jawa disebut "NGROGO SUKMO".
Kalau Anda masih dalam tahap perenungan, maka tidak usah berkecil hati. Teruskan usaha Anda dan yakinlah bahwa Anda akan bisa melakukannya. Yang lebih istimewa lagi,
tahap-tahap dalam berdiam diri untuk mendekatkan diri pada ALLAH itu apabila dilakukan setiap hari, maka Anda akan berhasil mendapatkan apa yang Anda cari.
GUSTI ALLAH sangat suka terhadap orang-orang yang berniat untuk mendekatkan diri padaNYA. Kalau tidak sekarang, kapan lagi Anda akan mendekatkan diri padaNYA? Ingat, umur kita hanya ALLAH sendiri yang tahu, kita manusia hanya menjalani saja
CANDI SINGOSARI - MALANG - JAWA TIMUR
CANDI SINGOSARI
Candi Singosari sebenarnya merupakan contoh sebuah bangunan candi yang belum sepenuhnya selesai dikerjakan Meskipun demikian, pada candi ini tersimpan suatu karya seni yang tinggi, terutama seni arca. Di candi inilah ditemukan puncak kesenian Indonesia purba.
Candi Singosari terletak di Desa Candirenggo, Kecamatan Singosari, Kabupaten Malang, Jawa Timur. Berdiri megah di sebuah lembah di antara Gunung Bromo dan Gunung Arjuna pada ketinggian sekitar +500 meter d.p.l.
Nama candi ini disebut-sebut dalam Kitab Nāgarakĕrtāgama Pupuh 37:7 dan 38:3, juga dalam Prasasti Gajah Mada (1351 Masehi) yang ditemukan di halaman candi,sebagai tempat pendharmaan raja Singhasāri terakhir yang wafat pada tahun 1292 Masehi.
Bangunan candi terletak pada sebuah kompleks yang luasnya sekitar 8 hektar (200 x 400 meter. Di dalam kompleks itu terdapat juga sisa fondasi bangunan, runtuhan bangunan Candi Papak dan Candi Ringgit, dan sejumlah arca batu. Candi Papak dan Candi Ringgit letaknya sekitar 300 meter ke arah baratdaya Candi Singosari.
Apabila kita menuju ke Singosari dari arah baratlaut, di sebelah kiri dan kanan jalan masuk, ditemukan sepasang arca raksasa yang tingginya 3,70 meter. Dekat kedua arca itu terdapat sebidang tanah lapang yang disebut alun-alun.
Dengan ditemukannya dua arca raksasa di dekat alun-alun, beberapa pakar menduga bahwa daerah itu dulunya merupakan pusat kerajaan Singhasāri. Arca raksasa biasanya ditempatkan dekat dengan keraton atau dekat pintu masuk halaman candi.
Konon, ketika arca itu hendak diangkat untuk ditempatkan pada lantai beton, arca itu tidak
dapat diangkat. Tetapi di malam hari, barulah arca itu dapat diangkat dan dipindahkan. Oleh
sebab itu, ketika akan diangkat pada siang hari, mata arca tersebut ditutup dengan kain.
1 Candi Singosari ditemukan pada awal abad ke-20 dalam keadaan sudah rusak,terutama pada bagian puncak atap menara. Pada tahun 1934 candi itu mulai dipugar. Untuk keperluan itu, candi tersebut dibongkar sampai ke bagian kakinya, kemudian dibangun kembali selapis demi selapis. Karena bagian yang hilang cukup banyak, perbaikan jadi tidak sempurna. Candi itu hanya dapat dibangun kembali sampai atap tingkat dua.
Pembangunan kembali hingga mendapatkan bentuk yang seperti sekarang kita lihat selesai
tahun 1936.
Bangunan Candi Singosari seluruhnya dibuat dari batu andesit dengan arah hadapnya ke barat. Denahnya berbentuk bujursangkar dengan ukuran 14 x 14 meter dan tinggi 15 meter. Bangunan ini terdiri atas tingkat yang terbawah atau batur, kaki-candi yang tinggi, tubuh yang langsing, dan bagian atap yang berbentuk limas. Kaki-candi dibangun di atas batur yang tingginya 2 meter. Di atas batur itu yang tinggi itu berdiri kaki candi yang dibuat cukup tinggi. Pada bagian kaki candi itulah terdapat bilik-bilik candi dan bangunan penampilnya. Pada bangunan penampil yang ada pada masing-masing sisi terdapat relung untuk menempatkan arca. Relung ini bagian atasnya terdapat hiasan kepala kala yang belum selesai dikerjakan. Bangunan penampil biasanya terdapat pada bagian tubuh.
Bangunan penampil yang ditemukan pada keempat sisi juga terdapat pada bagian tubuh candi. Namun relung yang terdapat pada bagian tubuh ini berukuran lebih kecil dan tidak terlalu dalam. Di bagian atas relung juga terdapat hiasan kepala kala. Hiasan kala yang terdapat di sini telah selesai dikerjakan.
Dari undak-undak sisi barat, dapat dicapai bagian atas batur yang merupakan selasar untuk mengelilingi kaki candi. Undak-undak itu berhubungan dengan bangunan penampil dan bilik tengah (ruang utama) candi. Di dalam bilik tengah itu terdapat lingga 2 dan yoni. Di bagian bawah lantai bilik tengah terdapat sistem parit. Di sebelah kiri dan kanan jalan masuknya terdapat relung-relung kecil yang di dalamnya terdapat arca Mahākāla dan Nandīśwara. Bilik-bilik lain yang dapat dimasuki melalui selasar keliling pada batur, dulunya berisi arca Durgā (bilik utara), Ganeśa (bilik timur), dan Śiwa-Guru (bilik selatan). Arca Durgā dan Ganeśa sudah hilang, sedangkan arca Śiwa-Guru masih ada.
Candi Singosari dulunya tidak berdiri sendiri. Di sebelah selatan masih di dalam lingkungan candi terdapat sebuah batur fondasi.
Mungkin di atas batur itu terdapat bangunan kecil yang dibuat dari bahan yang mudah rusak. Pada salah satu bangunan candi yang terdapat di dalam kompleks percandian terdapat arca Prajñāpāramitā, dewi kebijaksanaan dalam agama Buddha, yang sekarang disimpan di Museum Nasional, Jakarta. Arcaarca lain yang ditemukan dari runtuhan bangunan yang terdapat di sekitar Candi Singosari adalah arca Ganeśa, Chakrachakra (Bhairawa),Brahmā, Tŗnawindu, dan Agastya.
Arca Durgamahisasuramardini.
Chakrachakra adalah nama yang terdapat pada bagian belakang arca dalam bentuk Bhairawa ini, Śiwa dalam bentuk sedang marah. Nama lengkapnya mungkin Chakrachakreśwara, sesosok dewa yang berdiri di atas srigala dengan tangannya memegang tombak bermata tiga, pisau besar, gendang tangan (moko ?), dan tengkorak manusia. Bagian badannya penuh dengan hiasan tengkorak manusia.
Sayang hingga kini seluruh arca, kecuali arca Prajñāpāramitā, masih berdomisili di negara lain, yakni di Royal Tropical Institute, Belanda, sehingga hanya kalangan tertentu yang dapat menikmatinya. Itupun hanya melalui foto. Padahal arca itu merupakan hasil karya seni yang tinggi yang layak menjadi kebanggaan seluruh bangsa Indonesia.
Paling tidak, arca-arca itu dapat menambah kejelasan bahwa Candi Singosari memang sebuah tempat pendharmaan bagi Raja Kertanagara.
Candi Singosari sebenarnya merupakan contoh sebuah bangunan candi yang belum sepenuhnya selesai dikerjakan Meskipun demikian, pada candi ini tersimpan suatu karya seni yang tinggi, terutama seni arca. Di candi inilah ditemukan puncak kesenian Indonesia purba.
Candi Singosari terletak di Desa Candirenggo, Kecamatan Singosari, Kabupaten Malang, Jawa Timur. Berdiri megah di sebuah lembah di antara Gunung Bromo dan Gunung Arjuna pada ketinggian sekitar +500 meter d.p.l.
Nama candi ini disebut-sebut dalam Kitab Nāgarakĕrtāgama Pupuh 37:7 dan 38:3, juga dalam Prasasti Gajah Mada (1351 Masehi) yang ditemukan di halaman candi,sebagai tempat pendharmaan raja Singhasāri terakhir yang wafat pada tahun 1292 Masehi.
Bangunan candi terletak pada sebuah kompleks yang luasnya sekitar 8 hektar (200 x 400 meter. Di dalam kompleks itu terdapat juga sisa fondasi bangunan, runtuhan bangunan Candi Papak dan Candi Ringgit, dan sejumlah arca batu. Candi Papak dan Candi Ringgit letaknya sekitar 300 meter ke arah baratdaya Candi Singosari.
Apabila kita menuju ke Singosari dari arah baratlaut, di sebelah kiri dan kanan jalan masuk, ditemukan sepasang arca raksasa yang tingginya 3,70 meter. Dekat kedua arca itu terdapat sebidang tanah lapang yang disebut alun-alun.
Dengan ditemukannya dua arca raksasa di dekat alun-alun, beberapa pakar menduga bahwa daerah itu dulunya merupakan pusat kerajaan Singhasāri. Arca raksasa biasanya ditempatkan dekat dengan keraton atau dekat pintu masuk halaman candi.
Konon, ketika arca itu hendak diangkat untuk ditempatkan pada lantai beton, arca itu tidak
dapat diangkat. Tetapi di malam hari, barulah arca itu dapat diangkat dan dipindahkan. Oleh
sebab itu, ketika akan diangkat pada siang hari, mata arca tersebut ditutup dengan kain.
1 Candi Singosari ditemukan pada awal abad ke-20 dalam keadaan sudah rusak,terutama pada bagian puncak atap menara. Pada tahun 1934 candi itu mulai dipugar. Untuk keperluan itu, candi tersebut dibongkar sampai ke bagian kakinya, kemudian dibangun kembali selapis demi selapis. Karena bagian yang hilang cukup banyak, perbaikan jadi tidak sempurna. Candi itu hanya dapat dibangun kembali sampai atap tingkat dua.
Pembangunan kembali hingga mendapatkan bentuk yang seperti sekarang kita lihat selesai
tahun 1936.
Bangunan Candi Singosari seluruhnya dibuat dari batu andesit dengan arah hadapnya ke barat. Denahnya berbentuk bujursangkar dengan ukuran 14 x 14 meter dan tinggi 15 meter. Bangunan ini terdiri atas tingkat yang terbawah atau batur, kaki-candi yang tinggi, tubuh yang langsing, dan bagian atap yang berbentuk limas. Kaki-candi dibangun di atas batur yang tingginya 2 meter. Di atas batur itu yang tinggi itu berdiri kaki candi yang dibuat cukup tinggi. Pada bagian kaki candi itulah terdapat bilik-bilik candi dan bangunan penampilnya. Pada bangunan penampil yang ada pada masing-masing sisi terdapat relung untuk menempatkan arca. Relung ini bagian atasnya terdapat hiasan kepala kala yang belum selesai dikerjakan. Bangunan penampil biasanya terdapat pada bagian tubuh.
Bangunan penampil yang ditemukan pada keempat sisi juga terdapat pada bagian tubuh candi. Namun relung yang terdapat pada bagian tubuh ini berukuran lebih kecil dan tidak terlalu dalam. Di bagian atas relung juga terdapat hiasan kepala kala. Hiasan kala yang terdapat di sini telah selesai dikerjakan.
Dari undak-undak sisi barat, dapat dicapai bagian atas batur yang merupakan selasar untuk mengelilingi kaki candi. Undak-undak itu berhubungan dengan bangunan penampil dan bilik tengah (ruang utama) candi. Di dalam bilik tengah itu terdapat lingga 2 dan yoni. Di bagian bawah lantai bilik tengah terdapat sistem parit. Di sebelah kiri dan kanan jalan masuknya terdapat relung-relung kecil yang di dalamnya terdapat arca Mahākāla dan Nandīśwara. Bilik-bilik lain yang dapat dimasuki melalui selasar keliling pada batur, dulunya berisi arca Durgā (bilik utara), Ganeśa (bilik timur), dan Śiwa-Guru (bilik selatan). Arca Durgā dan Ganeśa sudah hilang, sedangkan arca Śiwa-Guru masih ada.
Candi Singosari dulunya tidak berdiri sendiri. Di sebelah selatan masih di dalam lingkungan candi terdapat sebuah batur fondasi.
Mungkin di atas batur itu terdapat bangunan kecil yang dibuat dari bahan yang mudah rusak. Pada salah satu bangunan candi yang terdapat di dalam kompleks percandian terdapat arca Prajñāpāramitā, dewi kebijaksanaan dalam agama Buddha, yang sekarang disimpan di Museum Nasional, Jakarta. Arcaarca lain yang ditemukan dari runtuhan bangunan yang terdapat di sekitar Candi Singosari adalah arca Ganeśa, Chakrachakra (Bhairawa),Brahmā, Tŗnawindu, dan Agastya.
Arca Durgamahisasuramardini.
Chakrachakra adalah nama yang terdapat pada bagian belakang arca dalam bentuk Bhairawa ini, Śiwa dalam bentuk sedang marah. Nama lengkapnya mungkin Chakrachakreśwara, sesosok dewa yang berdiri di atas srigala dengan tangannya memegang tombak bermata tiga, pisau besar, gendang tangan (moko ?), dan tengkorak manusia. Bagian badannya penuh dengan hiasan tengkorak manusia.
Sayang hingga kini seluruh arca, kecuali arca Prajñāpāramitā, masih berdomisili di negara lain, yakni di Royal Tropical Institute, Belanda, sehingga hanya kalangan tertentu yang dapat menikmatinya. Itupun hanya melalui foto. Padahal arca itu merupakan hasil karya seni yang tinggi yang layak menjadi kebanggaan seluruh bangsa Indonesia.
Paling tidak, arca-arca itu dapat menambah kejelasan bahwa Candi Singosari memang sebuah tempat pendharmaan bagi Raja Kertanagara.
CAILAH YANG ABADI DAN KEKAL
CARILAH YANG ABADI
Dalam kehidupan ini kita dibekali GUSTI ALLAH dengan raga yang diantaranya terdapat indera. Berbagai macam indera telah ditanamkan pada tubuh kita dan praktis bisa dipergunakan dengan mudah. Namun di balik keberadaan indera tersebut, ternyata kinerja indera itu sendiri tidak bisa dipercaya 100 persen. Lho kok bisa? Apa buktinya?
Contoh yang sederhana saja, kita sering melihat gunung dengan menggunakan indera penglihatan kita yaitu mata. Nah, dari kejauhan, gunung itu bila kita lihat warnanya adalah biru. Warna biru gunung itu sendiri kita yakini dalam hati. Tetapi, saat kita mendaki gunung tersebut, ternyata warna biru yang kita tangkap dengan indera penglihatan kita itu merupakan gambaran dari pepohonan yang berwarna hijau. Pertanyaan yang muncul, mengapa warna biru dari jauh kok bisa menjadi hijau jika didekati? Bukankah indera penglihatan tersebut telah menipu kita?
Masih contoh indera penglihatan. Sangat sering kita melihat fatamorgana di jalanan yang lurus. Dari pandangan kita seolah-olah terdapat air nun jauh di sana. Namun ketika kita dekati, ternyata tidak ada air sama sekali. Lagi-lagi, apakah indera penglihatan telah menipu?
Contoh lainnya adalah indera perasa yaitu kulit. Kita mengetahui bahwa sebuah bongkahan es batu itu jika dipegang rasanya sangat dingin. Namun, ketika kita memegang es batu itu dalam waktu yang cukup lama, maka rasa dingin itupun akan berubah menjadi panas. Apakah indera perasa juga menipu?
Dari serangkaian contoh dan pertanyaan yang muncul itu, ada jawaban yang tersirat. TIDAK! indera-indera tersebut tidak menipu kita. Namun indera yang dianugerahkan GUSTI ALLAH pada kita tersebut sifatnya sangat terbatas dan memiliki kemampuan tertentu. Hal itu sesuai dengan kodrat manusia yang serba memiliki keterbatasan. Dan indera tersebut juga bisa dikatakan tidak abadi.
RAGA
Sama dengan indera, demikian pula dengan raga juga memiliki sifat tidak abadi. Buktinya, kita lama kelamaan akan menjadi tua. Bukankah itu tidak abadi? Pertanyaan yang muncul lagi adalah, lalu apa yang abadi? Menurut ilmu fisika, di dunia ini tidak ada benda yang hilang. Yang ada benda tersebut BERUBAH BENTUK ataupun BERPINDAH TEMPAT. Contohnya, ketika motor Anda dicuri orang, maka Anda mengatakan bahwa motor Anda hilang. Nah, dalam ilmu fisika, hal itu tidak benar. Yang benar, motor Anda berpindah tempat. Contoh lain, ketika Anda menyaksikan es yang menjadi air, bukan berarti bahwa esnya menghilang. Yang benar, esnya telah berubah bentuk.
Diantara yang tidak abadi dalam tubuh manusia itu, ada bagian yang abadi. Apakah itu? Bagian tubuh manusia yang abadi adalah sukma. Sukma inilah yang disebut Urip Tan Keno Pati (Hidup yang tidak terkena kematian). Lho kok bisa? Jelas bisa. Misalnya, ada suatu peristiwa pembunuhan terhadap si A. Jelas orang-orang secara umum menyatakan si A mati. Tetapi apakah benar si A mati? Tidak, si A tetap hidup meskipun kehilangan raga. Sukmanya masih bisa kemana-mana.
Dari serangkaian contoh di atas bisa disimpulkan, kalau kita hendak mendekat dan mencari GUSTI ALLAH, maka janganlah menggunakan hal-hal yang tidak abadi. Tetapi gunakanlah yang abadi. Seperti halnya kematian, bukanlah akhir, namun awal dari kehidupan yang langgeng yaitu Urip Tan Keno Pati.
Dalam kehidupan ini kita dibekali GUSTI ALLAH dengan raga yang diantaranya terdapat indera. Berbagai macam indera telah ditanamkan pada tubuh kita dan praktis bisa dipergunakan dengan mudah. Namun di balik keberadaan indera tersebut, ternyata kinerja indera itu sendiri tidak bisa dipercaya 100 persen. Lho kok bisa? Apa buktinya?
Contoh yang sederhana saja, kita sering melihat gunung dengan menggunakan indera penglihatan kita yaitu mata. Nah, dari kejauhan, gunung itu bila kita lihat warnanya adalah biru. Warna biru gunung itu sendiri kita yakini dalam hati. Tetapi, saat kita mendaki gunung tersebut, ternyata warna biru yang kita tangkap dengan indera penglihatan kita itu merupakan gambaran dari pepohonan yang berwarna hijau. Pertanyaan yang muncul, mengapa warna biru dari jauh kok bisa menjadi hijau jika didekati? Bukankah indera penglihatan tersebut telah menipu kita?
Masih contoh indera penglihatan. Sangat sering kita melihat fatamorgana di jalanan yang lurus. Dari pandangan kita seolah-olah terdapat air nun jauh di sana. Namun ketika kita dekati, ternyata tidak ada air sama sekali. Lagi-lagi, apakah indera penglihatan telah menipu?
Contoh lainnya adalah indera perasa yaitu kulit. Kita mengetahui bahwa sebuah bongkahan es batu itu jika dipegang rasanya sangat dingin. Namun, ketika kita memegang es batu itu dalam waktu yang cukup lama, maka rasa dingin itupun akan berubah menjadi panas. Apakah indera perasa juga menipu?
Dari serangkaian contoh dan pertanyaan yang muncul itu, ada jawaban yang tersirat. TIDAK! indera-indera tersebut tidak menipu kita. Namun indera yang dianugerahkan GUSTI ALLAH pada kita tersebut sifatnya sangat terbatas dan memiliki kemampuan tertentu. Hal itu sesuai dengan kodrat manusia yang serba memiliki keterbatasan. Dan indera tersebut juga bisa dikatakan tidak abadi.
RAGA
Sama dengan indera, demikian pula dengan raga juga memiliki sifat tidak abadi. Buktinya, kita lama kelamaan akan menjadi tua. Bukankah itu tidak abadi? Pertanyaan yang muncul lagi adalah, lalu apa yang abadi? Menurut ilmu fisika, di dunia ini tidak ada benda yang hilang. Yang ada benda tersebut BERUBAH BENTUK ataupun BERPINDAH TEMPAT. Contohnya, ketika motor Anda dicuri orang, maka Anda mengatakan bahwa motor Anda hilang. Nah, dalam ilmu fisika, hal itu tidak benar. Yang benar, motor Anda berpindah tempat. Contoh lain, ketika Anda menyaksikan es yang menjadi air, bukan berarti bahwa esnya menghilang. Yang benar, esnya telah berubah bentuk.
Diantara yang tidak abadi dalam tubuh manusia itu, ada bagian yang abadi. Apakah itu? Bagian tubuh manusia yang abadi adalah sukma. Sukma inilah yang disebut Urip Tan Keno Pati (Hidup yang tidak terkena kematian). Lho kok bisa? Jelas bisa. Misalnya, ada suatu peristiwa pembunuhan terhadap si A. Jelas orang-orang secara umum menyatakan si A mati. Tetapi apakah benar si A mati? Tidak, si A tetap hidup meskipun kehilangan raga. Sukmanya masih bisa kemana-mana.
Dari serangkaian contoh di atas bisa disimpulkan, kalau kita hendak mendekat dan mencari GUSTI ALLAH, maka janganlah menggunakan hal-hal yang tidak abadi. Tetapi gunakanlah yang abadi. Seperti halnya kematian, bukanlah akhir, namun awal dari kehidupan yang langgeng yaitu Urip Tan Keno Pati.
CANDI SUKUH - KAB. KARANGANYAR - SURAKARTA - JAWA TENGAH
Candi Sukuh
Candi Sukuh adalah sebuah kompleks candi agama Hindu yang terletak di Kabupaten Karanganyar, eks Karesidenan Surakarta, Jawa Tengah. Candi ini dikategorikan sebagai candi Hindu karena ditemukannya obyek pujaan lingga dan yoni. Candi ini digolongkan kontroversial karena bentuknya yang kurang lazim dan karena banyaknya obyek-obyek lingga dan yoni yang melambangkan seksualitas.
Sejarah singkat penemuan
Situs candi Sukuh dilaporkan pertama kali pada masa pemerintahan Britania Raya di tanah Jawa pada tahun 1815 oleh Johnson, Residen Surakarta. Johnson kala itu ditugasi oleh Thomas Stanford Raffles untuk mengumpulkan data-data guna menulis bukunya The History of Java. Setelah masa pemerintahan Britania Raya berlalu, pada tahun 1842, Van der Vlis, arkeolog Belanda, melakukan penelitian. Pemugaran pertama dimulai pada tahun 1928.
Lokasi candi
Lokasi candi Sukuh terletak di lereng kaki Gunung Lawu pada ketinggian kurang lebih 1.186 meter di atas permukaan laut pada koordinat 07o37, 38’ 85’’ Lintang Selatan dan 111o07,. 52’65’’ Bujur Barat. Candi ini terletak di Dukuh Berjo, Desa Sukuh, kecamatan Ngargoyoso, Kabupaten Karanganyar, Jawa Tengah. Candi ini berjarak kurang lebih 20 kilometer dari kota Karanganyar dan 36 kilometer dari Surakarta.
Struktur bangunan candi
Denah candi Sukuh.
Bangunan candi Sukuh memberikan kesan kesederhanaan yang mencolok pada para pengunjung. Kesan yang didapatkan dari candi ini sungguh berbeda dengan yang didapatkan dari candi-candi besar di Jawa Tengah lainnya yaitu Candi Borobudur dan Candi Prambanan. Bentuk bangunan candi Sukuh cenderung mirip dengan peninggalan budaya Maya di Meksiko atau peninggalan budaya Inca di Peru. Struktur ini juga mengingatkan para pengunjung akan bentuk-bentuk piramida di Mesir.
Kesan kesederhanaan ini menarik perhatian arkeolog termashyur Belanda, W.F. Stutterheim, pada tahun 1930. Ia mencoba menjelaskannya dengan memberikan tiga argumen. Pertama, kemungkinan pemahat Candi Sukuh bukan seorang tukang batu melainkan tukang kayu dari desa dan bukan dari kalangan keraton. Kedua candi dibuat dengan agak tergesa-gesa sehingga kurang rapi. Ketiga, keadaan politik kala itu dengan menjelang keruntuhannya Majapahit, sehingga tidak memungkinkan untuk membuat candi yang besar dan megah.
Para pengunjung yang memasuki pintu utama lalu memasuki gapura terbesar akan melihat bentuk arsitektur khas bahwa ini tidak disusun tegak lurus namun agak miring, berbentuk trapesium dengan atap di atasnya.
Batu-batuan di candi ini berwarna agak kemerahan, sebab batu-batu yang dipakai adalah jenis andesit.
Teras pertama candi
Gapura utama candi Sukuh.
Pada teras pertama terdapat gapura utama. Pada gapura ini ada sebuah sangkala dalam bahasa Jawa yang berbunyi gapura buta abara wong. Artinya dalam bahasa Indonesia adalah “Gapura sang raksasa memangsa manusia”. Kata-kata ini memiliki makna 9, 5, 3, dan 1. Jika dibalik maka didapatkan tahun 1359 Saka atau tahun 1437 Masehi.
Teras kedua candi
Gapura pada teras kedua sudah rusak. Di kanan dan kiri gapura yang biasanya terdapat patung penjaga pintu atau dwarapala, didapati pula, namun dalam keadaan rusak dan sudah tidak jelas bentuknya lagi. Gapura sudah tidak beratap dan pada teras ini tidak dijumpai banyak patung-patung. Namun pada gapura ini terdapat sebuah candrasangkala pula dalam bahasa Jawa yang berbunyi gajah wiku anahut buntut. Artinya dalam bahasa Indonesia adalah “Gajah pendeta menggigit ekor”. Kata-kata ini memiliki makna 8, 7, 3, dan 1. Jika dibalik maka didapatkan tahun 1378 Saka atau tahun 1456 Masehi. Jadi jika bilangan ini benar, maka ada selisih hampir duapuluh tahun dengan gapura di teras pertama!
Teras ketiga candi
Pada teras ketiga ini terdapat pelataran besar dengan candi induk dan beberapa relief di sebelah kiri serta patung-patung di sebelah kanan. Jika para pengunjung ingin mendatangi candi induk yang suci ini, maka batuan berundak yang relatif lebih tinggi daripada batu berundak sebelumnya harus dilalui. Selain itu lorongnya juga sempit. Konon arsitektur ini sengaja dibuat demikian. Sebab candi induk yang mirip dengan bentuk vagina ini, menurut beberapa pakar memang dibuat untuk mengetes keperawanan para gadis. Menurut cerita, jika seorang gadis yang masih perawan mendakinya, maka selaput daranya akan robek dan berdarah. Namun apabila ia tidak perawan lagi, maka ketika melangkahi batu undak ini, kain yang dipakainya akan robek dan terlepas.
Tepat di atas candi utama di bagian tengah terdapat sebuah bujur sangkar yang kelihatannya merupakan tempat menaruh sesajian. Di sini terdapat bekas-bekas kemenyan, dupa dan hio yang dibakar, sehingga terlihat masing sering dipergunakan untuk bersembahyang.
Kemudian pada bagian kiri candi induk terdapat serangkaian relief-relief yang merupakan mitologi utama Candi Sukuh dan telah diidentifikasi sebagai relief cerita Kidung Sudamala. Urutan reliefnya adalah sebagai berikut.
Relief pertama
Di bagian kiri dilukiskan sang Sahadewa atau Sadewa, saudara kembar Nakula dan merupakan yang termuda dari para Pandawa Lima. Kedua-duanya adalah putra Prabu Pandu dari Dewi Madrim, istrinya yang kedua. Madrim meninggal dunia ketika Nakula dan Sadewa masih kecil dan keduanya diasuh oleh Dewi Kunti, istri utama Pandu. Dewi Kunti lalu mengasuh mereka bersama ketiga anaknya dari Pandu: Yudhistira, Bima dan Arjuna. Relief ini menggambarkan Sadewa yang sedang berjongkok dan diikuti oleh seorang punakawan atau pengiring. Berhadapan dengan Sadewa terlihatlah seorang tokoh wanita yaitu Dewi Durga yang juga disertai seorang punakawan.
Relief kedua
Pada relief kedua ini dipahat gambar Dewi Durga yang telah berubah menjadi seorang raksasi (raksasa wanita) yang berwajah mengerikan. Dua orang raksasa mengerikan; Kalantaka dan Kalañjaya menyertai Batari Durga yang sedang murka dan mengancam akan membunuh Sadewa. Kalantaka dan Kalañjaya adalah jelmaan bidadara yang dikutuk karena tidak menghormati Dewa sehingga harus terlahir sebagai raksasa berwajah buruk. Sadewa terikat pada sebuah pohon dan diancam dibunuh dengan pedang karena tidak mau membebaskan Durga. Di belakangnya terlihat antara lain ada Semar. Terlihat wujud hantu yang melayang-layang dan di atas pohon sebelah kanan ada dua ekor burung hantu. Lukisan mengerikan ini kelihatannya ini merupakan lukisan di hutan Setra Gandamayu (Gandamayit) tempat pembuangan para dewa yang diusir dari sorga karena pelanggaran.
Relief ketiga
Pada bagian ini digambarkan bagaimana Sadewa bersama punakawannya, Semar berhadapan dengan pertapa buta bernama Tambrapetra dan putrinya Ni Padapa di pertapaan Prangalas. Sadewa akan menyembuhkannya dari kebutaannya.
Relief keempat
Adegan di sebuah taman indah di mana sang Sadewa sedang bercengkerama dengan Tambrapetra dan putrinya Ni Padapa serta seorang punakawan di pertapaan Prangalas. Tambrapetra berterima kasih dan memberikan putrinya kepada Sadewa untuk dinikahinya.
Relief kelima
Lukisan ini merupakan adegan adu kekuatan antara Bima dan kedua raksasa Kalantaka dan Kalañjaya. Bima dengan kekuatannya yang luar biasa sedang mengangkat kedua raksasa tersebut untuk dibunuh dengan kuku pañcanakanya.
Patung-patung sang Garuda
Lalu pada bagian kanan terdapat dua buah patung Garuda yang merupakan bagian dari cerita pencarian tirta amerta (air kehidupan) yang terdapat dalam kitab Adiparwa, kitab pertama Mahabharata. Pada bagian ekor sang Garuda terdapat sebuah prasasti.
Kemudian sebagai bagian dari kisah pencarian amerta tersebut di bagian ini terdapat pula tiga patung kura-kura yang melambangkan bumi dan penjelmaan Dewa Wisnu. Bentuk kura-kura ini menyerupai meja dan ada kemungkinan memang didesain sebagai tempat menaruh sesajian. Sebuah piramida yang puncaknya terpotong melambangkan Gunung Mandaragiri yang diambil puncaknya untuk mengaduk-aduk lautan mencari tirta amerta.
Lihat kisah Pemutaran Laut Mencari Amerta
Beberapa bangunan dan patung lainnya
Selain candi utama dan patung-patung kura-kura, garuda serta relief-relief, masih ditemukan pula beberapa patung hewan berbentuk celeng (babi hutan) dan gajah berpelana. Pada zaman dahulu para ksatria dan kaum bangsawan berwahana gajah.
Lalu ada pula bangunan berelief tapal kuda dengan dua sosok manusia di dalamnya, di sebelah kira dan kanan yang berhadapan satu sama lain. Ada yang berpendapat bahwa relief ini melambangkan rahim seorang wanita dan sosok sebelah kiri melambangkan kejahatan dan sosok sebelah kanan melambangkan kebajikan. Namun hal ini belum begitu jelas.
Kemudian ada sebuah bangunan kecil di depan candi utama yang disebut candi pewara. Di bagian tengahnya, bangunan ini berlubang dan terdapat patung kecil tanpa kepala. Patung ini oleh beberapa kalangan masih dikeramatkan sebab seringkali diberi sesajian.
Referensi
Prof. Dr. R.M. Ng. Poerbatjaraka, 1952, Kapustakan Djawi. Djakarta: Djambatan.
Suwarno Asmadi (Pemandu Wisata) dan Haryono Soemadi, 2004, Candi Sukuh. Antara Situs Pemujaan dan Pendidikan Seks. Surakarta: C.V. Massa Baru.
P.J. Zoetmulder, 1983, Kalangwan. Sastra Jawa Kuno Selayang Pandang. Jakarta: Djambatan.
Candi Sukuh adalah sebuah kompleks candi agama Hindu yang terletak di Kabupaten Karanganyar, eks Karesidenan Surakarta, Jawa Tengah. Candi ini dikategorikan sebagai candi Hindu karena ditemukannya obyek pujaan lingga dan yoni. Candi ini digolongkan kontroversial karena bentuknya yang kurang lazim dan karena banyaknya obyek-obyek lingga dan yoni yang melambangkan seksualitas.
Sejarah singkat penemuan
Situs candi Sukuh dilaporkan pertama kali pada masa pemerintahan Britania Raya di tanah Jawa pada tahun 1815 oleh Johnson, Residen Surakarta. Johnson kala itu ditugasi oleh Thomas Stanford Raffles untuk mengumpulkan data-data guna menulis bukunya The History of Java. Setelah masa pemerintahan Britania Raya berlalu, pada tahun 1842, Van der Vlis, arkeolog Belanda, melakukan penelitian. Pemugaran pertama dimulai pada tahun 1928.
Lokasi candi
Lokasi candi Sukuh terletak di lereng kaki Gunung Lawu pada ketinggian kurang lebih 1.186 meter di atas permukaan laut pada koordinat 07o37, 38’ 85’’ Lintang Selatan dan 111o07,. 52’65’’ Bujur Barat. Candi ini terletak di Dukuh Berjo, Desa Sukuh, kecamatan Ngargoyoso, Kabupaten Karanganyar, Jawa Tengah. Candi ini berjarak kurang lebih 20 kilometer dari kota Karanganyar dan 36 kilometer dari Surakarta.
Struktur bangunan candi
Denah candi Sukuh.
Bangunan candi Sukuh memberikan kesan kesederhanaan yang mencolok pada para pengunjung. Kesan yang didapatkan dari candi ini sungguh berbeda dengan yang didapatkan dari candi-candi besar di Jawa Tengah lainnya yaitu Candi Borobudur dan Candi Prambanan. Bentuk bangunan candi Sukuh cenderung mirip dengan peninggalan budaya Maya di Meksiko atau peninggalan budaya Inca di Peru. Struktur ini juga mengingatkan para pengunjung akan bentuk-bentuk piramida di Mesir.
Kesan kesederhanaan ini menarik perhatian arkeolog termashyur Belanda, W.F. Stutterheim, pada tahun 1930. Ia mencoba menjelaskannya dengan memberikan tiga argumen. Pertama, kemungkinan pemahat Candi Sukuh bukan seorang tukang batu melainkan tukang kayu dari desa dan bukan dari kalangan keraton. Kedua candi dibuat dengan agak tergesa-gesa sehingga kurang rapi. Ketiga, keadaan politik kala itu dengan menjelang keruntuhannya Majapahit, sehingga tidak memungkinkan untuk membuat candi yang besar dan megah.
Para pengunjung yang memasuki pintu utama lalu memasuki gapura terbesar akan melihat bentuk arsitektur khas bahwa ini tidak disusun tegak lurus namun agak miring, berbentuk trapesium dengan atap di atasnya.
Batu-batuan di candi ini berwarna agak kemerahan, sebab batu-batu yang dipakai adalah jenis andesit.
Teras pertama candi
Gapura utama candi Sukuh.
Pada teras pertama terdapat gapura utama. Pada gapura ini ada sebuah sangkala dalam bahasa Jawa yang berbunyi gapura buta abara wong. Artinya dalam bahasa Indonesia adalah “Gapura sang raksasa memangsa manusia”. Kata-kata ini memiliki makna 9, 5, 3, dan 1. Jika dibalik maka didapatkan tahun 1359 Saka atau tahun 1437 Masehi.
Teras kedua candi
Gapura pada teras kedua sudah rusak. Di kanan dan kiri gapura yang biasanya terdapat patung penjaga pintu atau dwarapala, didapati pula, namun dalam keadaan rusak dan sudah tidak jelas bentuknya lagi. Gapura sudah tidak beratap dan pada teras ini tidak dijumpai banyak patung-patung. Namun pada gapura ini terdapat sebuah candrasangkala pula dalam bahasa Jawa yang berbunyi gajah wiku anahut buntut. Artinya dalam bahasa Indonesia adalah “Gajah pendeta menggigit ekor”. Kata-kata ini memiliki makna 8, 7, 3, dan 1. Jika dibalik maka didapatkan tahun 1378 Saka atau tahun 1456 Masehi. Jadi jika bilangan ini benar, maka ada selisih hampir duapuluh tahun dengan gapura di teras pertama!
Teras ketiga candi
Pada teras ketiga ini terdapat pelataran besar dengan candi induk dan beberapa relief di sebelah kiri serta patung-patung di sebelah kanan. Jika para pengunjung ingin mendatangi candi induk yang suci ini, maka batuan berundak yang relatif lebih tinggi daripada batu berundak sebelumnya harus dilalui. Selain itu lorongnya juga sempit. Konon arsitektur ini sengaja dibuat demikian. Sebab candi induk yang mirip dengan bentuk vagina ini, menurut beberapa pakar memang dibuat untuk mengetes keperawanan para gadis. Menurut cerita, jika seorang gadis yang masih perawan mendakinya, maka selaput daranya akan robek dan berdarah. Namun apabila ia tidak perawan lagi, maka ketika melangkahi batu undak ini, kain yang dipakainya akan robek dan terlepas.
Tepat di atas candi utama di bagian tengah terdapat sebuah bujur sangkar yang kelihatannya merupakan tempat menaruh sesajian. Di sini terdapat bekas-bekas kemenyan, dupa dan hio yang dibakar, sehingga terlihat masing sering dipergunakan untuk bersembahyang.
Kemudian pada bagian kiri candi induk terdapat serangkaian relief-relief yang merupakan mitologi utama Candi Sukuh dan telah diidentifikasi sebagai relief cerita Kidung Sudamala. Urutan reliefnya adalah sebagai berikut.
Relief pertama
Di bagian kiri dilukiskan sang Sahadewa atau Sadewa, saudara kembar Nakula dan merupakan yang termuda dari para Pandawa Lima. Kedua-duanya adalah putra Prabu Pandu dari Dewi Madrim, istrinya yang kedua. Madrim meninggal dunia ketika Nakula dan Sadewa masih kecil dan keduanya diasuh oleh Dewi Kunti, istri utama Pandu. Dewi Kunti lalu mengasuh mereka bersama ketiga anaknya dari Pandu: Yudhistira, Bima dan Arjuna. Relief ini menggambarkan Sadewa yang sedang berjongkok dan diikuti oleh seorang punakawan atau pengiring. Berhadapan dengan Sadewa terlihatlah seorang tokoh wanita yaitu Dewi Durga yang juga disertai seorang punakawan.
Relief kedua
Pada relief kedua ini dipahat gambar Dewi Durga yang telah berubah menjadi seorang raksasi (raksasa wanita) yang berwajah mengerikan. Dua orang raksasa mengerikan; Kalantaka dan Kalañjaya menyertai Batari Durga yang sedang murka dan mengancam akan membunuh Sadewa. Kalantaka dan Kalañjaya adalah jelmaan bidadara yang dikutuk karena tidak menghormati Dewa sehingga harus terlahir sebagai raksasa berwajah buruk. Sadewa terikat pada sebuah pohon dan diancam dibunuh dengan pedang karena tidak mau membebaskan Durga. Di belakangnya terlihat antara lain ada Semar. Terlihat wujud hantu yang melayang-layang dan di atas pohon sebelah kanan ada dua ekor burung hantu. Lukisan mengerikan ini kelihatannya ini merupakan lukisan di hutan Setra Gandamayu (Gandamayit) tempat pembuangan para dewa yang diusir dari sorga karena pelanggaran.
Relief ketiga
Pada bagian ini digambarkan bagaimana Sadewa bersama punakawannya, Semar berhadapan dengan pertapa buta bernama Tambrapetra dan putrinya Ni Padapa di pertapaan Prangalas. Sadewa akan menyembuhkannya dari kebutaannya.
Relief keempat
Adegan di sebuah taman indah di mana sang Sadewa sedang bercengkerama dengan Tambrapetra dan putrinya Ni Padapa serta seorang punakawan di pertapaan Prangalas. Tambrapetra berterima kasih dan memberikan putrinya kepada Sadewa untuk dinikahinya.
Relief kelima
Lukisan ini merupakan adegan adu kekuatan antara Bima dan kedua raksasa Kalantaka dan Kalañjaya. Bima dengan kekuatannya yang luar biasa sedang mengangkat kedua raksasa tersebut untuk dibunuh dengan kuku pañcanakanya.
Patung-patung sang Garuda
Lalu pada bagian kanan terdapat dua buah patung Garuda yang merupakan bagian dari cerita pencarian tirta amerta (air kehidupan) yang terdapat dalam kitab Adiparwa, kitab pertama Mahabharata. Pada bagian ekor sang Garuda terdapat sebuah prasasti.
Kemudian sebagai bagian dari kisah pencarian amerta tersebut di bagian ini terdapat pula tiga patung kura-kura yang melambangkan bumi dan penjelmaan Dewa Wisnu. Bentuk kura-kura ini menyerupai meja dan ada kemungkinan memang didesain sebagai tempat menaruh sesajian. Sebuah piramida yang puncaknya terpotong melambangkan Gunung Mandaragiri yang diambil puncaknya untuk mengaduk-aduk lautan mencari tirta amerta.
Lihat kisah Pemutaran Laut Mencari Amerta
Beberapa bangunan dan patung lainnya
Selain candi utama dan patung-patung kura-kura, garuda serta relief-relief, masih ditemukan pula beberapa patung hewan berbentuk celeng (babi hutan) dan gajah berpelana. Pada zaman dahulu para ksatria dan kaum bangsawan berwahana gajah.
Lalu ada pula bangunan berelief tapal kuda dengan dua sosok manusia di dalamnya, di sebelah kira dan kanan yang berhadapan satu sama lain. Ada yang berpendapat bahwa relief ini melambangkan rahim seorang wanita dan sosok sebelah kiri melambangkan kejahatan dan sosok sebelah kanan melambangkan kebajikan. Namun hal ini belum begitu jelas.
Kemudian ada sebuah bangunan kecil di depan candi utama yang disebut candi pewara. Di bagian tengahnya, bangunan ini berlubang dan terdapat patung kecil tanpa kepala. Patung ini oleh beberapa kalangan masih dikeramatkan sebab seringkali diberi sesajian.
Referensi
Prof. Dr. R.M. Ng. Poerbatjaraka, 1952, Kapustakan Djawi. Djakarta: Djambatan.
Suwarno Asmadi (Pemandu Wisata) dan Haryono Soemadi, 2004, Candi Sukuh. Antara Situs Pemujaan dan Pendidikan Seks. Surakarta: C.V. Massa Baru.
P.J. Zoetmulder, 1983, Kalangwan. Sastra Jawa Kuno Selayang Pandang. Jakarta: Djambatan.
PANGGUNG KEHIDUPAN ANDA SENDIRI
Buatlah Panggung Kehidupan Anda Sendiri
17/02/2009 by wuryanano
“Dunia ini, panggung sandiwara; ceritanya mudah berubah. Ada peran wajar, dan ada peran berpura-pura. Mengapa kita bersandiwara, mengapa kita bersandiwara……”. Ini merupakan cuplikan bait lagu slow rock, yang pernah popular dinyanyikan oleh Ahmad Albar; personil band Gong 2000.
Jika kita telaah lebih jauh, bait lagu tersebut menunjukkan kepada kita semua; bahwa kehidupan di dunia ini seakan-akan sebuah kehidupan di dalam sebuah panggung pertunjukkan sandiwara atau drama. Sebuah panggung sandiwara, tentunya tak bisa lepas dari peranan sutradara dan skenario ceritanya. Kalau Anda terlibat masuk sebagai pemain di sebuah panggung sandiwara, maka Anda harus mengikuti petunjuk arahan sutradara dan isi cerita di dalam skenarionya itu.
Jika seorang artis bisa menghayati peran yang dimainkannya, maka peran itu terasa wajar, tetapi jika seorang artis tidak bisa menghayati atau menjiwai peran yang dibawakannya, maka peran tersebut kelihatan tidak wajar atau terlihat nyata kepura-puraannya dan bohongnya.
Seperti halnya sebuah panggung sandiwara; demikian pula yang terjadi di dalam kehidupan Anda sesungguhnya. Bedanya adalah: di dalam panggung sandiwara yang sebenarnya, Anda harus tunduk dan patuh kepada sutradara dan isi skenario cerita yang sudah dipersiapkan untuk Anda. Jika Anda melanggar pantangan-pantangan dari sutradara, atau Anda tidak bisa menghayati peran yang harus Anda mainkan; maka Anda pasti dipecat atau disingkirkan olehnya.
Tetapi lain halnya jika Anda berada di dalam panggung kehidupan Anda pribadi, maka yang menjadi penulis skenario cerita, pengatur lakunya dan sutradaranya adalah Anda sendiri, bukan orang lain. Kemudian Anda bisa mengambil peran yang ada di dalamnya sesuai dengan keinginan, skenario cerita Anda sendiri. Anda pun bisa mengatur perilaku kehidupan Anda sendiri.
Seperti halnya di panggung sandiwara, jika Anda di panggung kehidupan Anda sendiri terjadi pelanggaran-pelanggaran yang Anda lakukan, jika Anda tidak bisa menghayati peran yang telah Anda tulis sendiri, itu artinya Anda selalu berpura-pura dengan memakai “topeng” dalam kehidupan Anda; dengan kata lain Anda berperilaku dan bertindak tidak sesuai dengan skenario yang telah Anda tulis; maka Andapun bisa terdepak keluar dari panggung kehidupan Anda sendiri…Anda akan gagal menjalani kehidupan sebagaimana yang Anda inginkan.
Paling penting dipahami di sini adalah, dalam membuat “skenario cerita” kehidupan yang harus Anda jalani ini, semestinya Anda membuat jalan ceritanya dengan baik dan benar, yang tidak merugikan diri sendiri ataupun orang lain.
Buatlah skenario kehidupan Anda dengan bagus, sesuai dengan keinginan Anda; tetapi dengan tidak mengabaikan kepentingan orang lain. Anda boleh bebas membuat skenario cerita kehidupan apapun, yang ingin Anda jalani nantinya.
Kemudian Anda harus berusaha menghayati peran yang telah Anda tentukan sendiri itu, dengan cara Anda harus dengan sukarela meresapi peran Anda itu sampai benar-benar diterima dengan “ikhlas” oleh pikiran bawah sadar Anda. Satu hal lagi, Anda juga jangan mudah terpengaruh dengan situasi dan kondisi yang ada pada diri Anda saat itu; termasuk jangan terpengaruh dengan situasi dan kondisi lingkungan, pemerintahan, politik, ekonomi ataupun situasi negara saat itu. Apapun situasi dan kondisinya pada saat itu; janganlah mempengaruhi jalan cerita panggung kehidupan Anda.
Yang penting di sini adalah jadilah sutradara kehidupan Anda sendiri. Tetapkanlah skenario kehidupan Anda sendiri; kemudian jalanilah skenario cerita yang sudah Anda buat itu dengan sebaik-baiknya.
Jangan pernah menggantungkan kehidupan Anda pada orang lain, meskipun Anda berhak menjalin hubungan baik dengan sesama, tetapi Ingatlah! Jangan sampai hidup Anda bergantung kepada orang lain. Jadilah orang yang mandiri.
Kehidupan Anda adalah 100% tanggung jawab Anda sendiri.
Buatlah panggung kehidupan Anda sendiri dan meriahkanlah itu dengan cerita yang baik dan bagus sesuai keinginan dan tujuan hidup Anda. Ambilah sebuah sikap tegas dan benar terhadap panggung kehidupan Anda sendiri. Jangan pernah keluar dari alur cerita yang telah Anda rancang, atau Anda akan menyesal selamanya.
Salam Luar Biasa Prima
17/02/2009 by wuryanano
“Dunia ini, panggung sandiwara; ceritanya mudah berubah. Ada peran wajar, dan ada peran berpura-pura. Mengapa kita bersandiwara, mengapa kita bersandiwara……”. Ini merupakan cuplikan bait lagu slow rock, yang pernah popular dinyanyikan oleh Ahmad Albar; personil band Gong 2000.
Jika kita telaah lebih jauh, bait lagu tersebut menunjukkan kepada kita semua; bahwa kehidupan di dunia ini seakan-akan sebuah kehidupan di dalam sebuah panggung pertunjukkan sandiwara atau drama. Sebuah panggung sandiwara, tentunya tak bisa lepas dari peranan sutradara dan skenario ceritanya. Kalau Anda terlibat masuk sebagai pemain di sebuah panggung sandiwara, maka Anda harus mengikuti petunjuk arahan sutradara dan isi cerita di dalam skenarionya itu.
Jika seorang artis bisa menghayati peran yang dimainkannya, maka peran itu terasa wajar, tetapi jika seorang artis tidak bisa menghayati atau menjiwai peran yang dibawakannya, maka peran tersebut kelihatan tidak wajar atau terlihat nyata kepura-puraannya dan bohongnya.
Seperti halnya sebuah panggung sandiwara; demikian pula yang terjadi di dalam kehidupan Anda sesungguhnya. Bedanya adalah: di dalam panggung sandiwara yang sebenarnya, Anda harus tunduk dan patuh kepada sutradara dan isi skenario cerita yang sudah dipersiapkan untuk Anda. Jika Anda melanggar pantangan-pantangan dari sutradara, atau Anda tidak bisa menghayati peran yang harus Anda mainkan; maka Anda pasti dipecat atau disingkirkan olehnya.
Tetapi lain halnya jika Anda berada di dalam panggung kehidupan Anda pribadi, maka yang menjadi penulis skenario cerita, pengatur lakunya dan sutradaranya adalah Anda sendiri, bukan orang lain. Kemudian Anda bisa mengambil peran yang ada di dalamnya sesuai dengan keinginan, skenario cerita Anda sendiri. Anda pun bisa mengatur perilaku kehidupan Anda sendiri.
Seperti halnya di panggung sandiwara, jika Anda di panggung kehidupan Anda sendiri terjadi pelanggaran-pelanggaran yang Anda lakukan, jika Anda tidak bisa menghayati peran yang telah Anda tulis sendiri, itu artinya Anda selalu berpura-pura dengan memakai “topeng” dalam kehidupan Anda; dengan kata lain Anda berperilaku dan bertindak tidak sesuai dengan skenario yang telah Anda tulis; maka Andapun bisa terdepak keluar dari panggung kehidupan Anda sendiri…Anda akan gagal menjalani kehidupan sebagaimana yang Anda inginkan.
Paling penting dipahami di sini adalah, dalam membuat “skenario cerita” kehidupan yang harus Anda jalani ini, semestinya Anda membuat jalan ceritanya dengan baik dan benar, yang tidak merugikan diri sendiri ataupun orang lain.
Buatlah skenario kehidupan Anda dengan bagus, sesuai dengan keinginan Anda; tetapi dengan tidak mengabaikan kepentingan orang lain. Anda boleh bebas membuat skenario cerita kehidupan apapun, yang ingin Anda jalani nantinya.
Kemudian Anda harus berusaha menghayati peran yang telah Anda tentukan sendiri itu, dengan cara Anda harus dengan sukarela meresapi peran Anda itu sampai benar-benar diterima dengan “ikhlas” oleh pikiran bawah sadar Anda. Satu hal lagi, Anda juga jangan mudah terpengaruh dengan situasi dan kondisi yang ada pada diri Anda saat itu; termasuk jangan terpengaruh dengan situasi dan kondisi lingkungan, pemerintahan, politik, ekonomi ataupun situasi negara saat itu. Apapun situasi dan kondisinya pada saat itu; janganlah mempengaruhi jalan cerita panggung kehidupan Anda.
Yang penting di sini adalah jadilah sutradara kehidupan Anda sendiri. Tetapkanlah skenario kehidupan Anda sendiri; kemudian jalanilah skenario cerita yang sudah Anda buat itu dengan sebaik-baiknya.
Jangan pernah menggantungkan kehidupan Anda pada orang lain, meskipun Anda berhak menjalin hubungan baik dengan sesama, tetapi Ingatlah! Jangan sampai hidup Anda bergantung kepada orang lain. Jadilah orang yang mandiri.
Kehidupan Anda adalah 100% tanggung jawab Anda sendiri.
Buatlah panggung kehidupan Anda sendiri dan meriahkanlah itu dengan cerita yang baik dan bagus sesuai keinginan dan tujuan hidup Anda. Ambilah sebuah sikap tegas dan benar terhadap panggung kehidupan Anda sendiri. Jangan pernah keluar dari alur cerita yang telah Anda rancang, atau Anda akan menyesal selamanya.
Salam Luar Biasa Prima
Langganan:
Postingan (Atom)